TUGAS TERSTRUKTUR PUPUK DAN PEMUPUKAN
Di susun
OLEH:
NAMA : Raul diranto abet nego
NIM:C51109218
![]() |
Fakultas Pertanian
Program studi Agroteknologi
Universitas tanjungpura
Pontianak
2011
Kata pengantar
Segala puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena berkat, pertolongan dan perlindungannya kita masih diberi kesehatan dan kekuatan sekarang ini. Sehingga tugas yang diberikan dosen dapat terselesaikan dengan baik, tugas yang berjudul “pupuk hijau” ini tepat pada waktu nya. Terimakasih kepada dosen pengasuh materi pupuk dan pemupukan serta teman-teman yang membantu dalam proses pembuatan tugas ini, penulis menyadari masih tugas ini masih jauh dari kesempurnaan.
Oleh karena itu bagi pembaca sangat diharapkan krtitik dan saran yang bersifat membangun untuk kesempurnaan tugas ini. Mudah-mudahan tugas yang tidak sempurna ini bisa menjadi bahan bacaan teman-teman dan menambah referensi dan sedikit menambah wawasan teman-teman semua. Akhir kata saya ucapkan terima kasih …
Pontianak 22 mei 2011
Penulis
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
1.1.LatarBelakang
Program revitalisasi pertanian yang digulirkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono salah satu tujuannya adalah mewujudkan ketahanan pangan nasional. Salah satu upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional adalah dengan meningkatkan produktifitas padi. Peningkatan produktifitas tersebut di jabarkan dengan program peningkatan beras 2 juta ton pada tahun 2007 dan selanjutnya meningkat 5 % per tahunhingga tahun 2009.
Tantangan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi padi nasional salah satunya adalah efisiensi penggunaan masukan yang berkaitan secara langsung dengan peningkatan pendapatan petani dan kelestarian lingkungan. Sejak tahun 1960-an, kebutuhan pupuk di sektor pertanian
terus meningkat karena semakin luasnya lahan yang perlu dipupuk serta naiknya takaran pemakaian pupuk per satuan luas. Penetapan rekomendasi takaran pemupukan yang bersifat nasional dinilai sudah kurang relevan karena berbagai faktor seperti kaitannya dengan kompetensi metode uji, daya dukung lahan, dan kebutuhan tanaman akan hara yang beragam. Serta kondisi kesuburan tanah antar wilayah atau bahkan antar lokasi dalam suatu wilayah yang berbeda (Balai penelitian Tanaman Padi, 2003) Rekomendasi pemupukan padi sawah saat ini masih bersifat umum, sehingga pemupukan belum rasional dan belum berimbang. Sebagian petani menggunakan pupuk tertentu dengan dosis berlebihan, dan sebagian lainnya menggunakan pupuk dengan dosis yang lebih rendah dari kebutuhan tanaman sehingga produksi padi tidak optimal akibat ketidakseimbangan hara di dalam tanah (Fagi dan Makarim, 1990 dan
Ponnamperuma, 1977 dalam Suwono., dkk., 2007) . Sebelum tahun 1989 produktifitas padi di Jawa Barat mengalami peningkatan 6.2 % per tahun. Pada periode 1989 ? 2000 peningkatan
produksi padi rata-rata 0.03 % dan pada tahun 1997 mengalami penurunan yang ditandai dengan adanya impor beras lebih dari 4 juta ton. Salah satu faktor penyebab menurunkan tingkat produktifitas ini adalah penggunaan pupuk anorganik yang tidak efisien serta terjadinya
degradasi lahan ( Surdianto dan Diratmaja, 2002) Alokasi Pupuk bersubsidi subsektor Tanaman Pangan untuk propinsi Jawa Barat pada tahun 2007 masing-masing untuk Urea, SP-36, ZA dan NPK adalah 474.500 ton; 74.395 ton; 40. 425 ton; 63.655 ton (Lampiran Permentan No 66/Permentan/OT.140/12/2006). Pupuk bersubsidi yang telah di alokasikan oleh pemerintah pada kenyataannya belum mampu memenuhi kebutuhan petani. Selain distribusi, faktor pemupukan yang berlebihan oleh petani menjadi penyebab utama sering tidak mencukupinya pupuk bersubsidi bagi petani. Kelangkaan pupuk saat musim tanam tiba tidak perlu terjadi apabila petani menggunakan pupuk secara berimbang.
Program revitalisasi pertanian yang digulirkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudoyono salah satu tujuannya adalah mewujudkan ketahanan pangan nasional. Salah satu upaya mewujudkan ketahanan pangan nasional adalah dengan meningkatkan produktifitas padi. Peningkatan produktifitas tersebut di jabarkan dengan program peningkatan beras 2 juta ton pada tahun 2007 dan selanjutnya meningkat 5 % per tahunhingga tahun 2009.
Tantangan yang dihadapi dalam upaya peningkatan produksi padi nasional salah satunya adalah efisiensi penggunaan masukan yang berkaitan secara langsung dengan peningkatan pendapatan petani dan kelestarian lingkungan. Sejak tahun 1960-an, kebutuhan pupuk di sektor pertanian
terus meningkat karena semakin luasnya lahan yang perlu dipupuk serta naiknya takaran pemakaian pupuk per satuan luas. Penetapan rekomendasi takaran pemupukan yang bersifat nasional dinilai sudah kurang relevan karena berbagai faktor seperti kaitannya dengan kompetensi metode uji, daya dukung lahan, dan kebutuhan tanaman akan hara yang beragam. Serta kondisi kesuburan tanah antar wilayah atau bahkan antar lokasi dalam suatu wilayah yang berbeda (Balai penelitian Tanaman Padi, 2003) Rekomendasi pemupukan padi sawah saat ini masih bersifat umum, sehingga pemupukan belum rasional dan belum berimbang. Sebagian petani menggunakan pupuk tertentu dengan dosis berlebihan, dan sebagian lainnya menggunakan pupuk dengan dosis yang lebih rendah dari kebutuhan tanaman sehingga produksi padi tidak optimal akibat ketidakseimbangan hara di dalam tanah (Fagi dan Makarim, 1990 dan
Ponnamperuma, 1977 dalam Suwono., dkk., 2007) . Sebelum tahun 1989 produktifitas padi di Jawa Barat mengalami peningkatan 6.2 % per tahun. Pada periode 1989 ? 2000 peningkatan
produksi padi rata-rata 0.03 % dan pada tahun 1997 mengalami penurunan yang ditandai dengan adanya impor beras lebih dari 4 juta ton. Salah satu faktor penyebab menurunkan tingkat produktifitas ini adalah penggunaan pupuk anorganik yang tidak efisien serta terjadinya
degradasi lahan ( Surdianto dan Diratmaja, 2002) Alokasi Pupuk bersubsidi subsektor Tanaman Pangan untuk propinsi Jawa Barat pada tahun 2007 masing-masing untuk Urea, SP-36, ZA dan NPK adalah 474.500 ton; 74.395 ton; 40. 425 ton; 63.655 ton (Lampiran Permentan No 66/Permentan/OT.140/12/2006). Pupuk bersubsidi yang telah di alokasikan oleh pemerintah pada kenyataannya belum mampu memenuhi kebutuhan petani. Selain distribusi, faktor pemupukan yang berlebihan oleh petani menjadi penyebab utama sering tidak mencukupinya pupuk bersubsidi bagi petani. Kelangkaan pupuk saat musim tanam tiba tidak perlu terjadi apabila petani menggunakan pupuk secara berimbang.
Pemupukan yang tidak memenuhi 5 Tepat yaitu Tepat jenis pupuk ; Tepat dosis pemupukannya; Tepat waktu pemupukannya; Tepat komoditi yang dipupuknya; dan Tepat cara pemupukannya merupakan penyebab terjadinya degradasi lahan. Menurut Setyorini (2004) pemupukan harus didasarkan pada jenis tanah tempat bercocok tanam, jenis tanaman yang ditanam, jenis pupuk yang digunakan, dosis pupuk yang digunakan, waktu pemupukan serta cara pemupukan. Dengan demikian penggunaan pupuk anorganik secara berimbang tetap diperlukan untuk meningkatkan produktifitas hasil pertanian namun tetap memperhatikan produktifitas dan kesuburan tanah.
1.2. Maksud dan Tujuan
Maksud dan tujuan penulisan ini adalah :
1. Memberikan informasi mengenai pentingnya penerapan teknologi pemupukan berimbang untuk meningkatkan produksi padi tanpa menimbulkan terjadinya degradasi lahan pertanian.
2. Memberikan informasi mengenai penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) dan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk mengetahui kebutuhan Nitrogen dan mengetahui kandungan hara P dan K sebagai acuan dalam menentukan takaran pemupukan N, P, dan K pada padi sawah sehingga konsep pemupukan berimbang dapat diterapkan oleh para petani.
Maksud dan tujuan penulisan ini adalah :
1. Memberikan informasi mengenai pentingnya penerapan teknologi pemupukan berimbang untuk meningkatkan produksi padi tanpa menimbulkan terjadinya degradasi lahan pertanian.
2. Memberikan informasi mengenai penggunaan Bagan Warna Daun (BWD) dan Perangkat Uji Tanah Sawah (PUTS) untuk mengetahui kebutuhan Nitrogen dan mengetahui kandungan hara P dan K sebagai acuan dalam menentukan takaran pemupukan N, P, dan K pada padi sawah sehingga konsep pemupukan berimbang dapat diterapkan oleh para petani.
BAB II
LANDASAN PEMIKIRAN
LANDASAN PEMIKIRAN
Sebagaimana diketahui tanah merupakan kumpulan benda alam yang tersusun dalam horison-horison, terdiri dari campuran bahan mineral, bahan organik, air dan udara serta merupakan media tumbuhnya tanaman (hardjowigeno, 1995). Tanah merupakan benda alam yang dinamis, sehingga pemanfaatan tanah untuk pertanian perlu memperhatikan tingkat kesuburan dan produktifitasnya. Adiningsih (2004) menyebutkan kesuburan tanah merupakan kapasitas inherent tanah untuk menyediakan hara dalam jumlah yang cukup dan dalam proporsi yang sesuai. Adapun produktifitas tanah merupakan kemampuan tanah untuk menghasilkan tanaman. Upaya peningkatan hasil pertanian tanpa memperhatikan keadaan tanah akan menyebabkan tingkat kesuburan tanah menurun, sehingga produktifitas tanahpun berkurang yang menyebabkan produktifitas hasil pertanian menurun (Sarief, 1984).
Penggunaan pupuk secara berimbang menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kendala peningkatan produktifitas padi di Jawa Barat dan kabupaten Bandung pada khususnya. Pemupukan secara berimbang selain menghemat biaya pemupukan juga membantu menyehatkan tanah sawah yang mengalami kelelahan (Soil fatigue). Penggunaan tanah untuk pertanian akan mengakibatkan terangkutnya unsure hara oleh tanaman saat panen, erosi, mengalami pencucian, serta aliran permukaan (run off).
Penggunaan pupuk secara berimbang menjadi salah satu solusi untuk mengatasi kendala peningkatan produktifitas padi di Jawa Barat dan kabupaten Bandung pada khususnya. Pemupukan secara berimbang selain menghemat biaya pemupukan juga membantu menyehatkan tanah sawah yang mengalami kelelahan (Soil fatigue). Penggunaan tanah untuk pertanian akan mengakibatkan terangkutnya unsure hara oleh tanaman saat panen, erosi, mengalami pencucian, serta aliran permukaan (run off).
BAB III
PEMBAHASAN
Pupuk hijau adalah pupuk yang terdiri dari daun-daunan yang mudah membusuk dalam tanah. Daun-daunan dapat langsung dimasukkan ke dalam tanah sebagai pupuk hijau. Unsur hara yang terdapat pupuk hijau misalnya: N, P, K, dan unsur lainnya. Contoh pupuk hijau yang mudah didapat adalah sisa hasil pertanian. Sisa hasil pertanian banyak mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan tanaman. Pengembalian sisa tanaman diperlukan untuk mengembalikan unsur-unsur yang diambil tanaman unutk pertumbuhannya kembali lagi ke lahan pertanian. Upaya ini untuk menjaga kesuburan tanah.
Pengembalian sisa tanaman perlu memperhatikan agar proses penguraian bahan organik tidak mengganggu tanaman musim tanam berikutnya. Penanaman tanaman sebaiknya menunggu proses peruraian sempurna. Pada saat proses peruraian bahan organik jika terdapat tanaman bisa menyebabkan tanaman sakit. Perlu diperhatikan agar proses peruraian bahan organik tidak mengganggu kesehatan tanaman. Proses peruraian bahan organik tergantung jenis bahan/sisa tanaman.
Pengembalian sisa tanaman perlu memperhatikan agar proses penguraian bahan organik tidak mengganggu tanaman musim tanam berikutnya. Penanaman tanaman sebaiknya menunggu proses peruraian sempurna. Pada saat proses peruraian bahan organik jika terdapat tanaman bisa menyebabkan tanaman sakit. Perlu diperhatikan agar proses peruraian bahan organik tidak mengganggu kesehatan tanaman. Proses peruraian bahan organik tergantung jenis bahan/sisa tanaman.
jenis-jenis pupuk hijau
a. Tanaman Legum
Pupuk hijau dapat juga ditanam pada waktu sela antar waktu tanam. Contoh tanaman pupuk hijau adalah tanaman kacang-kacangan. Tanaman kacang-kacangan biasanya mempunyai bintil akar. Dalam bintil akar tersebut hidup bakteri yang dapat menambat N2 dari udara yang diperlukan tanaman. Karena itu, bintil akar dapat disebut sebagai “pabrik” pupuk nitrogen alami. Contoh tanaman ini adalah: kacang tanah, kedelai, kacang hijau, dll. Sebagai contoh, tanaman kedelai dapat menambat nitrogen antara 60-168 kg/ha/tahun; kacang tanah 72-142/ha/tahun.
Tanaman legum atau kacang-kacangan mengandung nitrogen lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman non-legum. Daun tanaman legum dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau diproses menjadi kompos. Daun tanaman legum sebagai pupuk hijau dapat digunakan secara langsung. Selain daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau bahan kompos tanaman legum juga dapat mengikat nitrogen dari udara. Bintil-bintil akar dari tanaman legum mempunyai kandungan nitrogen yang cukup tinggi. Di dalam bintil akar ini hidup bakteri yang mampu menambat N2 dari udara. Karenanya bintil akar pada tanaman legum dapat dipandang sebagai “pabrik” nitrogen (kalau pupuk kimia urea) alami.
Tanaman legum atau kacang-kacangan mengandung nitrogen lebih tinggi dibandingkan dengan tanaman non-legum. Daun tanaman legum dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau diproses menjadi kompos. Daun tanaman legum sebagai pupuk hijau dapat digunakan secara langsung. Selain daunnya dapat digunakan sebagai pupuk hijau atau bahan kompos tanaman legum juga dapat mengikat nitrogen dari udara. Bintil-bintil akar dari tanaman legum mempunyai kandungan nitrogen yang cukup tinggi. Di dalam bintil akar ini hidup bakteri yang mampu menambat N2 dari udara. Karenanya bintil akar pada tanaman legum dapat dipandang sebagai “pabrik” nitrogen (kalau pupuk kimia urea) alami.
Pemanfaatan waktu sela bisa dimanfaatkan untuk menanam tanaman pupuk hijau. Pemanfaatan waktu sela untuk tanaman pupuk hijau lebih baik jika mempertimbangkan sfiat tanaman sebagai berikut:
- tanaman lokal, sehingga murah dan mudah didapat
- cepat berkembang biak dan mengandung unsur hara tinggi
- mudah tumbuh
- berupa tanaman semusim dan tidak berkayu serta tumbuh subur
- bisa tumbuh pada lahan yang ada tanpa persiapan lahan. Ditanam dengan cara ditugal atau disebar
- tanaman tahan terhadap naungan atau tahan terhadap kekeringan
- mampu menutup tanah dengan baik dan bisa melilit/merambat pada batang/tanggul sisa tanaman di lahan
- mudah dibenamkan dalam tanah
- cepat berkembang biak dan mengandung unsur hara tinggi
- mudah tumbuh
- berupa tanaman semusim dan tidak berkayu serta tumbuh subur
- bisa tumbuh pada lahan yang ada tanpa persiapan lahan. Ditanam dengan cara ditugal atau disebar
- tanaman tahan terhadap naungan atau tahan terhadap kekeringan
- mampu menutup tanah dengan baik dan bisa melilit/merambat pada batang/tanggul sisa tanaman di lahan
- mudah dibenamkan dalam tanah
Dengan kemampuannya menambat nitrogen dari udara tersebut tanaman legum menjadi sumber unsur hara nitrogen bagi ekosistem tanah. Keunggulan lainnya adalah mudah terurai di dalam tanah sehingga mempercepat penyiapan unsur hara bagi tanaman. Conoth legum adalah pupuk hijau lainnya seperti: orok-orok, lamtoro, turi, dadap, sengon laut, crolataria, gamal, kacang tunggak, kacang buncis dll.
b. Jerami
Jerami pada tanaman padi banyak sekali mengandung unsur nitrogen. Jerami padi merupakan sumber pupuk organik yang tersedia langsung di lahan pertanian. Mengembalikan jerami ke lahan tanaman adalah sama dengan memberikan pupuk ke dalam tanah. Dalam jerami mengandung banyak sekali unusr nitrogen karena sepertiga unsur nitrogen yang terserap tanaman padi tertinggal pada jerami. Ada berbagai macam cara dalam menangani jerami padi. Pertama jerami langsung ditebarkan ke atas lahan kemudian dibajak sehingga jerami bercampur dengan tanah. Atau mengolahnya dahulu menjadi kompos. Dalam jerami setiap 1,5 ton atau setara dengan 1 ton gabah kering mengandung 9 kg nitrogen, 2 kg Pospor, 25 kg Silikat, 6 kg Calsium, dan 2 kg Magnesium.Penggunaan jerami selain untuk dikembalikan ke dalam tanah sangat merugikan.
Pembakaran jerami tidak adalah sesuatu yang tidak benar. Pembakaran jerami menyebabkan hilangnya 93% unsur nitrogen dan kalium sebesar 20%. Jika jerami ditimbun di pinggir sawah menyebabkan proses penguraian menjadi lambat. Cairan yang dikeluarkan timbunan jerami akan mematikan tanaman di sekitarnya. Timbunan jerami juga dapat menjadi sarang tikus. Dengan mengembalikan jerami akan mengembalikan unsur pospor, besi, dan juga sulfur dan seng.
Cara pengembalian jerami ke lahan adalah dengan membenamkan pada lahan pertanian satu bulan menjelang tanam. Hal ini unutk mneghindari proses peruraian jerami mengganggu pertumbuhan tanaman. Dengan pembenaman jerami ketersediaan unsur hara dalam tanah akan mneingkat. Namun ada beberapa kendala yang dihadapi dalam memproses jerami menjadi pupuk ini.
1. penyebaran jerami memerlukan tenaga
2. menyulitkan pengolahan
3. dapat terjadi, jerami menjadi sarang serangga
Untuk mengatasi tenaga kerja karenanya dapat dilakukan penyebaran jerami secara langsung ke atas lahan tanaman. Dan mendiamkannya selama 1 minggu agar jerami menjadi busuk. Tetapi cara ini mengurangi kandungan unusr hara dalam jerami.
c. Sekam padi
Sekam padi dapat digunakan untuk memperbaiki struktur tanah dan menambah unusr hara tanah. Penggunaan sekam padi juga akan memperbaiki sifat fisik tanah dengan mengurangi kepadatan tanah. Adanya sekam padi memperluas ketersediaan lengas tanah. Pembenaman sekam secara tidak langsung juga memperbaiki sifat fisik tanah.
d. Azolla
Azolla merupakan jenis tanaman pakuan yang hidup pada lingkungan perairan dan mempunyai sebaran yang luas. Seperti tanaman legum, tanaman azolla mampu mengikat N2 dari udara. Azolla relatif toleran terhadap kondisi tanah yang asam, sehingga pengembangan azolla tidak memerlukan perlakukan khusus. Azolla merupakan jenis tanaman air yang banyak tumbuh di sawah yang tergenang. Azolla dapat dikembangbiakkan di sebagian petak sawah sebelum ditanami. Karena perkembangan azolla yang cepat ia dapat segera memenuhi seluruh lahan sawah. Azolla mampu berkembang mencapai 100 kali dalam waktu 15 s/d 20 hari.
Azolla dapat digunakan dengan membenamkannya secara langsung ke dalam tanah. Hal ini disebabkan karena azolla mudah terurai atau terdekomposisi. Bahkan azolla dapat digunakan sesudah masa tanam. Pembenaman azolla akan meningkatkan bahan organik tanah. 5 ton azolla setara dengan nitrogen seberat 30 kg. Karenanya kebutuhan nitrogen untuk tanaman padi dapat digantikan dengan pemanfaatan azolla.
Keunggulan lain dari azolla adalah kemampuannya menekan pertumbuhan gulma air dan dapat dibudidayakan bersama dengan tanaman padi. Dengan perkembangannya yang cepat azolla menekan pertumbuhan gulma sehingga menekan biaya penyiangan tanaman padi. Namun yang menjadi kendala adalah kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman azolla. Jika masalah air dapat terpenuhi, maka budidaya tanaman azolla tidak menjadi masalah. Sebab tanaman azolla perlu genangan air.
Jerami pada tanaman padi banyak sekali mengandung unsur nitrogen. Jerami padi merupakan sumber pupuk organik yang tersedia langsung di lahan pertanian. Mengembalikan jerami ke lahan tanaman adalah sama dengan memberikan pupuk ke dalam tanah. Dalam jerami mengandung banyak sekali unusr nitrogen karena sepertiga unsur nitrogen yang terserap tanaman padi tertinggal pada jerami. Ada berbagai macam cara dalam menangani jerami padi. Pertama jerami langsung ditebarkan ke atas lahan kemudian dibajak sehingga jerami bercampur dengan tanah. Atau mengolahnya dahulu menjadi kompos. Dalam jerami setiap 1,5 ton atau setara dengan 1 ton gabah kering mengandung 9 kg nitrogen, 2 kg Pospor, 25 kg Silikat, 6 kg Calsium, dan 2 kg Magnesium.Penggunaan jerami selain untuk dikembalikan ke dalam tanah sangat merugikan.
Pembakaran jerami tidak adalah sesuatu yang tidak benar. Pembakaran jerami menyebabkan hilangnya 93% unsur nitrogen dan kalium sebesar 20%. Jika jerami ditimbun di pinggir sawah menyebabkan proses penguraian menjadi lambat. Cairan yang dikeluarkan timbunan jerami akan mematikan tanaman di sekitarnya. Timbunan jerami juga dapat menjadi sarang tikus. Dengan mengembalikan jerami akan mengembalikan unsur pospor, besi, dan juga sulfur dan seng.
Cara pengembalian jerami ke lahan adalah dengan membenamkan pada lahan pertanian satu bulan menjelang tanam. Hal ini unutk mneghindari proses peruraian jerami mengganggu pertumbuhan tanaman. Dengan pembenaman jerami ketersediaan unsur hara dalam tanah akan mneingkat. Namun ada beberapa kendala yang dihadapi dalam memproses jerami menjadi pupuk ini.
1. penyebaran jerami memerlukan tenaga
2. menyulitkan pengolahan
3. dapat terjadi, jerami menjadi sarang serangga
Untuk mengatasi tenaga kerja karenanya dapat dilakukan penyebaran jerami secara langsung ke atas lahan tanaman. Dan mendiamkannya selama 1 minggu agar jerami menjadi busuk. Tetapi cara ini mengurangi kandungan unusr hara dalam jerami.
c. Sekam padi
Sekam padi dapat digunakan untuk memperbaiki struktur tanah dan menambah unusr hara tanah. Penggunaan sekam padi juga akan memperbaiki sifat fisik tanah dengan mengurangi kepadatan tanah. Adanya sekam padi memperluas ketersediaan lengas tanah. Pembenaman sekam secara tidak langsung juga memperbaiki sifat fisik tanah.
d. Azolla
Azolla merupakan jenis tanaman pakuan yang hidup pada lingkungan perairan dan mempunyai sebaran yang luas. Seperti tanaman legum, tanaman azolla mampu mengikat N2 dari udara. Azolla relatif toleran terhadap kondisi tanah yang asam, sehingga pengembangan azolla tidak memerlukan perlakukan khusus. Azolla merupakan jenis tanaman air yang banyak tumbuh di sawah yang tergenang. Azolla dapat dikembangbiakkan di sebagian petak sawah sebelum ditanami. Karena perkembangan azolla yang cepat ia dapat segera memenuhi seluruh lahan sawah. Azolla mampu berkembang mencapai 100 kali dalam waktu 15 s/d 20 hari.
Azolla dapat digunakan dengan membenamkannya secara langsung ke dalam tanah. Hal ini disebabkan karena azolla mudah terurai atau terdekomposisi. Bahkan azolla dapat digunakan sesudah masa tanam. Pembenaman azolla akan meningkatkan bahan organik tanah. 5 ton azolla setara dengan nitrogen seberat 30 kg. Karenanya kebutuhan nitrogen untuk tanaman padi dapat digantikan dengan pemanfaatan azolla.
Keunggulan lain dari azolla adalah kemampuannya menekan pertumbuhan gulma air dan dapat dibudidayakan bersama dengan tanaman padi. Dengan perkembangannya yang cepat azolla menekan pertumbuhan gulma sehingga menekan biaya penyiangan tanaman padi. Namun yang menjadi kendala adalah kebutuhan air untuk pertumbuhan tanaman azolla. Jika masalah air dapat terpenuhi, maka budidaya tanaman azolla tidak menjadi masalah. Sebab tanaman azolla perlu genangan air.
e. Sesbania rostrata
Sesbania rostrata merupakan tanaman legume yang potensial sebagai sumber N pada lahan sawah. Tanaman ini dapat tumbuh pada keadaan tergenang, dan dapat membentuk bintil tidak hanya pada akar tetapi juga pada batang. Oleh karena itu tanaman ini mempunyai kemampuan menambat N yang relatif tinggi.
Manfaat pupuk hijau
Pupuk hijau merupakan pemanfaatan hijauan tanaman yang belum terdekomposisi kedalam tanah yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi tanaman (Rachman Sutanto, 2002). Pupuk hijau yang digunakan berasal dari hijauan tanaman legum, karena tanaman legum mampu memfiksasi N bebas dari udara dengan bakteri penambat N sehingga kadar N yang terkandung didalam tanaman relatif tinggi.
Akibatnya pupuk hijau dapat diberikan dekat waktu penanaman tanpa harus mengalami proses pengomposan terlebih dahulu (Afandie Rosmarkam dan Nasih, W.Y, 2002). Selain sumber nitrogen keuntungan dalam pemberian pupuk hijau lainya adalah mensuplai bahan organik tanah, meningkatkan proses biokimia dalam tanah karena melalui bahan organik yang berasal dari hijauan tanaman merupakan sumber makanan bagi jasad renik tanah dan bertendensi merangsang perubahan biologis. Proses biokimia mempunyai peranan dalam memproduksi CO2, NH4, NO3 dan pembentukan senyawa sederhana lainnya (Nurhajati Hakim et al, 1986).
Goeswono Soepardi (1983) menyatakan suatu tanaman pupuk hijau yang ideal harus mempunyai 3 sifat utama : (1) cepat tumbuh, (2) bagian atas yang banyak dan sukulen, dan (3) kemampuan tumbuh pada tempat yang kurang subur. Menurut pendapat Rachman Sutanto (2002) kriteria untuk memilih jenis tanaman pupuk hijau yang baik yakni : produksi biomassa tinggi, sistem perakaran dalam, awal pertumbuhan cepat, lebih banyak daun dari pada kayu, mampu menyemat N, hubungan baik dengan mikoriza, memanfaatkan air secara efisien, bukan tanaman inang hama, tidak mempunyai akar rimpang, pembentukan biji mudah dan tanaman multiguna. Selain itu tanaman pupuk hijau harus memenuhi syarat tahan kekeringan dan banyak mengandung N (Sarwono Hardjowigeno, 2003).
Pupuk hijau (terutama legum) dapat dibagi kedalam tiga golongan : (1) pupuk hijau yang berbentuk pohon dipakai sebagai naungan atau sebagai pohon pelindung, misalnya Leucaena sp (lamtoro), Sesbania grandiflora , dll. (2) pupuk hijau berbentuk perdu, misalnya Crotalaria sp, Flamingia fongesta, dll. (3) pupuk hijau berbentuk semak, misalnya Calopogonium mucunoides, Pueraria javanica, Centrosema sp, Mimosa invisa.(Nurhajati Hakim et al, 1986).
Calopogonium mucunoides termasuk dalam sub famili Papilionaceae, tumbuhan ini termasuk kedalam pupuk hijau berbentuk semak/ menjalar pada permukaan tanah dan mampu membelit keatas tanaman yang tumbuh diatasnya. Perakaran tanaman berbentuk serabut yang banyak dijumpai bintil akar yang mengandung bakteri Rhizobium. Selama ini Calopogonium mucunoides digunakan sebagai tanaman pionir dalam merehabilitasi lahan terdegradasi akibat erosi, pada perkebunan sawit dan karet digunakan sebagai tanaman penyubur tanah (Purwanto, 2007). Hasil analisis menunjukkan kandungan hara makro didalam daun Calopogonium mucunoides terdiri dari N-total sebesar 4,6%, P-tersedia 0,52 (mg kg-1), K 2,11 (cmol kg-1) (Onwu et al,. 2005).
Pueraria javanica termasuk dalam sub famili Papilionaceae dengan pertumbuhan menjalar dan merambat ke arah kiri, mempunyai batang yang kuat, perakaran dalam dan membentuk umbi. Tumbuhan Pueraria javanica banyak dimanfaatkan sebagai tanaman penutup tanah,
pencegah erosi, sumber pupuk hijau, pemberantas alang-alang dan pakan ternak (Purwanto, 2007). Pueraria javanica memiliki kandungan hara N 2,56%, P0,22%, K 1,90% , C-organik 40,198% (Febrina, 2004).
pencegah erosi, sumber pupuk hijau, pemberantas alang-alang dan pakan ternak (Purwanto, 2007). Pueraria javanica memiliki kandungan hara N 2,56%, P0,22%, K 1,90% , C-organik 40,198% (Febrina, 2004).
Menurut Moch Munir (1996) Penambahan bahan organik pada Ultisol akan memperbaiki sifat fisik, kimia dan biologi tanah. Bahan organik yang telah terdekomposisi akan menghasilkan nutrisi tanaman. Sarwono Hardjowigeno (2003) bahwa pada beberapa tanah masam, pupuk organik dapat meningkatkan pH tanah, karena pupuk organik mampu menetralkan Al dengan membentuk Al-organik melalui asam humik yang terkandung pada setiap pupuk organik yang bertindak sebagai penyangga tanah sehingga dapat memberikan fleksibilitas perubahan reaksi tanah, sedangkan H+ yang terdapat pada misel tanah tetap sehingga pH tanah yang terukur meningkat dan perubahannya berpengaruh secara bermakna.
Hasil penelitian Abdul Syukur & Nur Indah M (2003) pemberian pupuk organik sebanyak 10 ton/ha mampu meningkatkan kadar C-organik tanah dari 1,35% menjadi 1, 785 % dan tidak berbeda nyata dengan dosis pupuk organik 20 ton/ha, selain itu juga mampu meningkatkan N-total tanah dari 0,075% menjadi 0,109% dan tidak berbeda nyata dengan dosis pupuk organik 20 ton/ha. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pupuk hijau Sesbania rostrata dengan dosis 5 ton/ha pada Ultisol mampu meningkatkan kandungan C-organik tanah dari 1,505% menjadi 1,863% dan meningkatkan nitrogen total tanah dari 0,114% menjadi 1,146% (Abdul Hadison, 2004).
Hasil penelitian Yudhi Ahmad Nazari (2003) pemberian Calopogonium dengan dosis 60 kg N/ha menunjukan nilai pH tanah 6,34 lebih tinggi jika dibandingkan dengan perlakuan pupuk anorganik yang memiliki nilai pH hanya 6,07 pada 105 hari setelah tanam. Peningkatan pH ini terjadi akibat adanya proses dekomposisi bahan organik yang diberikan menghasilkan kation-kation basa sehingga mampu meningkatkan pH tanah. Selain itu nilai unsur N yang tertinggal pada pengamatan 150 hari setelah tanam didalam tanah dengan dosis setara 120 kg N/ha dari jenis pupuk kandang ayam dan biomassa Tithonia memiliki nilai yang sama dengan unsur N dari pupuk anorganik sebesar 0,21%, sedangkan Calopogonium pada dosis 120 kg N/ha memiliki nilai N yang sedikit lebih
tinggi yakni 0,22%.
tinggi yakni 0,22%.
1. Sisa tanaman
Sisa tanaman (sisa panen) merupakan sumber BO yang paling ekonomis karena bahan ini merupakan hasil sampingan dari kegiatan usaha tani, sehingga tidak membutuhkan biaya untuk pengadaannya. Sisa tanaman walaupun kandungan haranya relatif rendah, namun karena total sisa tanaman yang dihasilkan setiap musim panen banyak, maka total unsur hara yang disumbangkan dari setiap musim panen tidak kalah dibandingkan jenis legume.
Tabel. Total hara yang terkandung dalam sisa panen (kecuali akar)
| Tanaman | Total hara dalam sisa tanaman kecuali akar | |||||
| N | P | K | Ca | Mg | S | |
| Kg ha-1 | ||||||
| Kacang-kacangan | | | | | | |
| K. Tunggak | 25 | 2 | 21 | 17 | 8 | 6 |
| K. Tanah | 7 | 5 | 59 | 60 | 17 | 16 |
| K. Hijau | 35 | 3 | 54 | 18 | 9 | 7 |
| Kedelai | 15 | 2 | 13 | 1 | 2 | 6 |
| K. Panjang | 65 | 6 | 33 | 23 | 16 | 8 |
| Biji-bijian | | | | | | |
| Jagung hibrida | 45 | 7 | 58 | 7 | 12 | 6 |
| Jagung local | 25 | 4 | 32 | 4 | 7 | 4 |
| Padi unggul | 30 | 2 | 93 | 10 | 6 | 1 |
| Padi local | 15 | 2 | 49 | 5 | 3 | 1 |
| Umbi-umbian | | | | | | |
| Singkong | 61 | 5 | 41 | 42 | 11 | 6 |
| Kentang | 39 | 8 | 46 | 9 | 4 | 5 |
| Ubi jalar | 30 | 5 | 29 | 4 | 2 | 3 |
2. Tanaman pagar
Salah satu cara menyediakan sumber pupuk hijau adalah dengan mengembangkan sistem pertanaman lorong, dimana tanaman pupuk hijau ditanam sebagai tanaman pagar berseling dengan tanaman utama.
Tanaman pagar dapat menghasilkan tanaman secara periodik; pada musim hujan tanaman dapat dipangkas setiap 2 bulan. Aplikasi sistem pertanaman lorong pada lahan miring, dimana legume ditanam searah kontur sangat efektif untuk menekan erosi.
Secara umum setiap legume dapat digunakan sebagai tanaman pagar, namun lebih efektif bila tanaman pagar memenuhi sifat-sifat sebagai berikut :
- Berakar dalam agar tidak menjadi pesaing bagi tanaman semusim
- Pertumbuhan cepat dan setelah pemangkasan cepat bertunas kembali
- Mampu menghasilkan bahan hijauan dalam jumlah banyak dan terus menerus yang dapat digunakan sebagai pupuk hijau
- Mampu memperbaiki kandungan N dalam tanah dan kandungan hara lainnya.
Tanaman legume yang dapat digunakan sebagai tanaman pagar :
Tabel. Produksi pangkasan (data pangkasan tahun kedua dan ketiga) beberapa jenis tanaman pagar
| Jenis tanaman pagar | Hasil bahan hijauan segar | Sumber |
| Ton ha-1tahun-1 | ||
| Flemingia (Plemingia macrophylla) | 4,7-26,2 | Suganda et al., 1991 ; Haryati et al., 1991; Erfandi et al., 1988 |
| Glirisidia (Gliricidia sepium) | 2,9-9,2 | Suganda et al., 1991 |
| Lamtoro gung | 1,3-2,9 | Suganda et al., 1991; Kang et al., 1984 |
| Lamtoro (Leucaena leucephala) | 6,1-20 | Erfandi et al., 1988 |
| Thephrosia (Theprosia candida) | 13,5 | Haryati et al., 1991 |
| Kaliandra (Calliandra callothyrsus) | 4,3-22,8 | Suganda et al., 1991; Erfandi et al., 1988 |
| Sengon ( Paraserianthes falcataria) | 1,5-1,6 | Suganda et al., 1991 |
3. Tanaman penutup tanah
Tanaman penutup tanah adalah tanaman yang ditanam sendiri yakni pada saat tanah tidak ditanami tanaman utama atau tanaman yang ditanam bersamaan dengan tanaman pokok bila tanaman pokok berupa tanaman tahunan.
Tujuan penanaman tanaman penutup tanah :
- Melindungi tanah dari daya perusak butir-butir hujan
- Mempertahankan/memperbaiki kesuburan tanah
- Menyediakan Bahan Organik
- Merupakan tindakan rehabilitasi lahan yang murah dan mudah diaplikasikan
4. Sesbania rostrata
Sesbania rostrata merupakan tanaman legume yang potensial sebagai sumber N pada lahan sawah. Tanaman ini dapat tumbuh pada keadaan tergenang, dan dapat membentuk bintil tidak hanya pada akar tetapi juga pada batang. Oleh karena itu tanaman ini mempunyai kemampuan menambat N yang relatif tinggi.
Sebenarnya penggunaan pupuk hijau ini bukan barang baru lagi, namun karena sudah banyak ditinggalkan oleh petani maka pupuk hijau ini terabaikan. Misalnya pada tahun tujuh puluhan, merupakan suatu keharusan pihak pabrik tembakau di Klaten, menanam Crotalaria juncea (orok-orok) pada setiap habis panen tembakau, bertujuan untuk mengembalikan dan memperbaiki kesuburan tanahnya. Setelah tembakau dipanen, ditanam orok-orok, setelah besar maka tanaman orok-orok ini dirobohkan dan dicampur dengan tanah saat pengolahan tanah (pembajakan) yang kemudian digenangi. Tetapi pada masa sekarang keharusan tersebut sukar dipenuhi baik oleh pihak pabrik maupun petani. Petani merasa keberatan bila sawahnya ditanami legum (orok-orok), karena dianggap tidak produktif, selama penanaman orok-orok (sekitar 1 bulan).
BAB IV
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Setelah melihat hasil pengamatan maka kesimpulannya adalah lebih memanfaatkan tanaman yang ada disekitar tempat tinggal kita yang dapat dijadikan sumber pupuk hijau, tanaman pupuk hijau pun tergolong mudah di dapat disbanding dengan menggunakan pupuk anorganik yang mempunyai dampak buruk yang sangat merugikan tanaman serta manusia di dalamnya.
Tanaman tidak tergantung pada anorganik untuk mencukupi kebutuhan dalam proses menjalani siklus hidup tanaman. Pupuk hijau sangat ramah lingkungan tidak merusak lingkungan namun mengembalikan unsur hara kedalam tanah karena terangkut pada saat panen tanaman, pembuatan pupuk hijau lebih mudah dilakukan karena tidak memerlukan bahan kimia yang dapat merusak, yang penting alami dan baik untuk tanaman. Bahan pembuatan sangat mudah didapat tidak memerlukan biaya yang terlalu besar untuk pembuatannya, relatif murah dan sangat efisien dalam fungsi dan manfaat nya.
B. SARAN
Gunakan pupuk hijau dan kurangi menggunakan bahan kimia berbahaya karena bahan kimia tidak mudah larut dalam air. Tidak memiliki efek samping yang buruk melainkan ramah lingkungan dan mudah cara penggunaannya.
DAFTAR PUSTAKA
Sarief S., 1989. Kesuburan dan Pemupukan Tanah Pertanian., Pustaka
Buana, Bandung.
Setyorini D., 2004., Peran Uji Tanah dalam Penyusunan Rekomendasi
Pemupukan. Makalah disajikan dalam Pelatihan Pemupukan Berimbang dan
Pengenalan Perangkat Uji Tanah (Soil Test Kit). Bogor 26-28 April
2004. Lembaga Pupuk Indonesia. Jakarta.
Hardjowigeno S., 1995. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.
Buana, Bandung.
Setyorini D., 2004., Peran Uji Tanah dalam Penyusunan Rekomendasi
Pemupukan. Makalah disajikan dalam Pelatihan Pemupukan Berimbang dan
Pengenalan Perangkat Uji Tanah (Soil Test Kit). Bogor 26-28 April
2004. Lembaga Pupuk Indonesia. Jakarta.
Hardjowigeno S., 1995. Ilmu Tanah. Akademika Pressindo. Jakarta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar